Warung Koffie Batavia dan Kopi Terbaik Indonesia - Free-acai-berry-trials.info Unik Berita

Minggu, 02 Agustus 2020

Warung Koffie Batavia dan Kopi Terbaik Indonesia



Warung Koffie Batavia - Kualitas kopi Indonesia diakui dunia.
Dengan dasar itulah, Warung Koffie Batavia menghadirkan restoran dan warung kopi.
Restoran ini mengangkat konsep Indonesia dan  Belanda ke dalam Interior dan menunya.

Menurut team Marketing Manager Brand Warung Koffie Batavia, Shara Moza, penanaman kopi pertama kali di Indonesia yakni di Jakarta yang dulu disebut Batavia.
"Lokasi tepatnya di Pondok Kopi yang sekarang menjadi nama jalan," ujar Shara Moza  kepada Warta Kota, belum lama ini.
Shara mengatakan, dalam perjalanan sejarah kopi, Indonesia dipilih oleh pemerintah Hindia-Belanda sebagai lokasi penanaman biji kopi pertama kali yang berada di luar tanah Arab dan Etiopia.

Pemilihan Indonesia, kata Shara Moza, lantaran tanah Indonesia terkenal subur sehingga dapat menghasilkan kualitas biji kopi yang lebih baik ketimbang Arab dan Etiopia ketika itu.
"Kopi pertama kali ditanam di Indonesia pada tahun 1696. Ketika itu biji kopi yang ditanam berjenis Yemeni Coffee oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie--Red)," ucapnya.

Penanaman kopi itu menjadi titik awal dikenalnya Indonesia sebagai penghasil biji kopi terbaik di dunia.
Saat panen, pihak Belanda kemudian mengirim biji kopi tersebut ke sejumlah negara.

Hasil penjualan kopi masuk ke  kas Belanda dan menjadi produk komoditi terbaiknya.
 Dari sejarah itu yang mengilhami Warung Koffie Batavia menghadirkan kopi-kopi terbaiknya untuk para konsumen terutama bagi pencinta minuman hitam ini.

"Warung Koffie Batavia menyediakan pilihan kopi terbaik Indonesia yang disajikan secara manual brew yakni tubruk dan peranakan," katanya.

Biji kopi yang dihadirkan Warung Koffie Batavia berasal dari berbagai daerah seperti Aceh Gayo, Dampit (Jawa Timur), Pengalengan dan Garut (Jawa Barat).

Salah satu kopi yang dihidangkan yakni House Blend dari Warung Koffie Batavia. Kopi ini diracik dari campuran jenis kopi arabika dan robusta yang menghasilkan rasa seimbang.
Kopi terbuat tanpa ada penguatan dari pahitnya robusta dan asamnya arabika.
Sementara itu interior warung kopi  hasil gabungan Indonesia dan Belanda seperti  ornamen kayu untuk  kursi dan meja, serta dinding.

Penambahan warna emas turut mempercantik interior melalui nama yang tertera di bagian atas bar.
 “Kami membawa Warung Koffie ke mal dengan kemasan yang lebih moderen dan elegan. Warung koffie tradisional kan memang kebanyakan bangunannya itu terbuat dari kayu,” ujar Shara.
Sedangkan unsur Belanda dihadirkan melalui permainan warna biru dan putih untuk kursi, sofa dan keramik yang terpajang sebagai garis pemanis di bagian barnya.

Nasi Uduk dan Nasi Kuning Bersatu dalam Menu Belanda
Untuk pengentalan unsur Belanda, Warung Koffie Batavia tak hanya bermain pada interior melainkan  menu-menu yang ditawarkan.

Kibbeling, stamppot, bitterballen dan pastel merupakan menu yang mampu menghilangkan rasa lapar dan teman ngopi Anda.

"Kami kan mengusung konsep Indonesia Belanda tetapi memang sebelumnya menu Belandanya kurang banyak, untuk itu kami tambahkan lagi agar konsepnya lebih kuat,” ujar Shara.
Kibbeling menjadi menu yang patut dicoba. Meski sekilas penampakannya mirip menu Fish & Chip, Shara mengatakan, Kibbeling berbeda terutama sausnya.
"Kalau biasanya fish & chip sausnya itu pakai mayones dan spicy sauce, " ucapnya.
"Kalau kami mayonesnya diganti dengan saus yoghurt. Yoghurtnya diolah dengan menambahkan sedikit gula biar enggak terlalu asam,” tutur Shara.

Stamppot pun perlu dipertimbangkan menjadi pilihan menu. Makanan ini bukan sekedar camilan, melainkan bisa memuaskan lidah dan perut yang keroncongan.

Stamppot terbuat dari  kentang tumbuk dan saus sapi sehingga cukup mengenyangkan perut Anda.
Kentang tumbuk diolah menggunakan air yang dicampurkan selada.
Untuk memberikan rasa, Warung Koffie Batavia menambahkan demiglaze sauce di atas kentang tumbuk agar tak hambar.

“Menu-menu tersebut memang ciri khas Belanda banget ya tetapi tentu rasanya sudah kami sesuaikan dengan lidah Indonesia," ucapnya.

Alasannya, jika murni dihadirkan dalam rasa aslinya, kata Shara, belum tentu orang-orang di Indonesia menyukainya.

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda